Sabtu, 02 Juli 2011

OMaKu HeBaT


Muhammad Rizki itulah nama lengkap yang diberikan oleh kedua orang tuaku sejak masih kecil. Hingga sekarang nama itu tetap kupakai dan akupun tak berniat untuk menggantinya, dan mungkin hingga ajal menjemput aku tidak akan pernah menggantinya. Menurut sebagian orang apalah artinya sebuah nama, namun bagiku nama adalah anugerah terindah dari Allah yang dilimpahkan melalui kasih sayang dari kedua orang tuaku, hingga aku terlahir dan dapat merasakan kehidupan di dunia hingga saat ini.

Sebenarnya kami merupakan keluarga yang bahagia walaupun dari segi materi kami bisa terbilang sederhana bahkan mungkin bisa dikatakan sering kekurangan alias miskin. Namun, bapak dan mamak dapat menyikapinya dengan santai dan tak terbawa pikiran serta itulah yang menjadi prinsip keluarga kami. Tetapi mungkin juga benar apa kata pepatah bahwa hidup adalah pilihan, pilihan untuk memilih sesuatu yang dianggap sebagai sebuah keyakinan dalam bertindak untuk melakukan sesuatu.
Dari sinilah bencana itu terjadi dan menimpa keluarga kami hingga tak tersisah lagi. Mamakku yang memiliki suara yang cukup merdu nan elok ditambah dengan wajah yang bisa dikatakan lumayan menurut orang desa dikontrak untuk menjadi biduan wanita pada sebuah grup band keybord yang dimiliki oleh pak Jufri, orang terkaya yang ada di desa kami. Awalnya mamak tidak mau bahkan sempat menolak tawaran itu karena menurutnya pekerjaan itu merupakan pekerjaan yang kurang sopan dan hanya menjadi tontonan para lelaki hidung belang saja, bahkan menurut pengalaman dari teman-temannya yang sudah terjun lebih dahulu ke dunia itu bahwa mereka harus minum-minuman keras, nyabu atau bahkan ngepil terlebih dahulu sebelum menyanyi dan hal itu kerap kali dilakukan apabila menjelang tengah malam untuk lebih membuat mereka pede. Namun atas desakan bapak dan juga didorong oleh kebutuhan keluarga dan niat untuk mengubah nasib maka mamak dengan segala resiko mengambil tawaran itu.
“Yoweslah Sri! Ambil saja tawaran itu. Mumpung pak Jufri lagi baik. Jarang-jarang lho dia seperti ini” ungkap bapak kepada mamak
“Tapi mas, mosok iyo aku harus pakai pakaian yang seksi-seksi begitu”
“Yang namanya biduan ya memang harus seperti itu!”
“Tapi mas?….”
“Diam! Aku iki suamimu jadi aku berhak mengaturmu” bentak bapak kepada mamak yang langsung menunduk ketakutan.
Jujur saja aku dan adikku yang sejak semula mengintip pembicaraan mereka dari kamar menjadi kaget bercampur takut, karena baru kali ini kami melihat bapak marah dan membentak mamak dengan begitu kerasnya. Adikku Nino hampir saja menangis melihat hal itu, hingga ia berhambur kelur kepelukan mamak. Aku yang berusaha untuk mencegahnya tak kuasa menahan, tinggallah aku di depan kamar sendiri dengan tatapan mata bapak yang seolah-olah akan melumatku.
“Heh sini kamu” panggil bapak dengan membentak kearahku
Mendapat panggilan seperti itu, kakiku terasa amat berat untuk melangkah ke arah bapak yang hanya beberapa meter saja jaraknya, namun karena tak ingin kemarahan bapak semakin menjadi-jadi maka dengan sekuat tenaga aku melangkahkan kakiku kearahnya juga.
“Tadi bapak nyuruh apa sama kamu hah!” Tanyanya membentak
Aku hanya diam membisu dan menunduk
“Ayo jawab!” seraya tangannya melayang kearah badanku
“Plak” Badanku terasa panas dan perih seperti tertusuk duri setelah terkena pukulan dari bapak dengan begitu kerasnya
“Uwes mas, uwes! Ojo digepok ene” mamak menghampiriku dan langsung menggendong serta membawaku ke kamar tanpa memikirkan bapak yang masih marah
“Pokoknya aku nggak mau tahu besok kamu harus menjumpai pak Jufri dan menandatangani kontrak itu” teriak bapak seraya keluar seraya membanting pintu.
Aku dan adikku hanya bisa meringkuk dalam dekapan mamak yang sesekali mengusap air matanya mengingat kejadian tadi.


Malam itu, bulan sabit memancarkan sinar dengan indahnya ditemani dengan bintang-bintang yang bertaburan di langit, seolah-olah memberikan kedamaian kepada makhluk yang ada di bumi. Namun, kedamaian itu terusik oleh tingkahlaku dari manusia-manusia yang hanya menghambakan diri kepada hawa nafsu semata, seperti yang terjadi di sudut desa Sukamaju dari jauh sudah terdengar hingar bingar dentuman musik melantun dengan kerasnya yang diiringi dengan banyaknya orang-orang yang berkumpul sedang berjoget mengiringi musik serta juga dilengkapi dengan minum-minuman keras yang telah disediahkan oleh orang yang menggelarnya. Diantara banyaknya orang yang berpesta tampak seorang wanita berpakaian minim setengah jadi sedang berlenggak lenggok dikerumunan lelaki yang tengah mabuk berat sambil memegang uang dan menyelipkan diantara tangannya untuk diberikan kepada wanita tersebut bila mendekat kepadanya. Itulah mamakku, ibu yang telah melahirkanku dari rahimnya sekarang sedang berada diantara laki-laki hidung belang hanya demi helaian kertas semata. Sedangkan bapak hanya bisa melihat dan mengawasi setiap gerak gerik mamak dari arah kejauhan. Aku dan Nino yang tidak jauh dari tempat itu hanya bisa melihat dan melihat tanpa bisa berbuat apa-apa. Apalah yang dapat diperbuat oleh anak seusia delapan tahunan seperti kami ini, tetapi di dalam hati aku berazzam untuk dapat mengubah kebiasaan buruk masyarakat terutama di dalam keluargaku sendiri dan hal itulah yang membuatku bercita-cita untuk menjadi seorang ustadz.
Seiring waktu berjalan tak terasa mamak telah menjalani profesi ini hampir kurang dari dua tahun dan selama itu pula sebenarnya mamak memendam perasaan bersalah yang terus-menerus karena profesi ini tak sesuai dengan kata hatinya, walaupun sekarang kehidupan kami mulai berangsur-angsur berubah menjadi lebih baik. Namun, ada sesuatu yang berubah dari semua ini yaitu sikap bapak yang semakin hari semakin otoriter terhadap mamak dan hal itu kerap kali dilakukan apabila mamak menolak untuk manggung. Bapak tidak mau tahu dan tidak perduli dengan keadaan mamak sesungguhnya, yang ada dikepalanya hanya uang dan uang. Pernah ketika itu mamak menolak tawaran manggung di suatu kota yang ditawarkan oleh pak Jufri dengan honor jutaan rupiah untuk memeriahkan ulang tahun sebuah bar yang cukup terkenal, namun dengan alasan tidak enak badan maka mamakpun menolaknya. Mendapati tidak adanya persetujuan dari mamak pak Jufri segera mencari bapak dan melaporkannya. Tak ayal lagi bapak marah besar mendengar semua itu dan langsung memaksa mamak untuk menyetujui tawaran itu.
“Brakkk!” bunyi pintu dibanting oleh bapak
“Sri, Sri?” panggil bapak berteriak
“Mana mamakmu?” tanyanya dengan suara tinggi padaku
“Di..di.. kamar pak” jawabku menggigil
Bapak segera masuk ke dalam kamar dan menyeret mamak yang saat itu sedang tidur dan serta merta menarik rambutnya dengan keras. Mendapati perlakuan seperti itu mamak meronta-ronta kesakitan sambil berusaha untuk melepaskan cengkeraman tangan bapak.
“Aduh, aduh, uwes mas!” rintih mamak kesakitan
“Aku tidak akan melepaskan sebelum kamu menyetujui kontrak manggung dengan pak Jufri itu” paksa bapak sambil menarik rambut mamak semakin kuat
“Uwes mas, uwes. Baik, baik. Aku akan menyetujui ajakan manggung itu” jawab mamak meringis
Bapak segera melepaskan rambut mamak, seraya mengancam
“Awas kalau kamu tidak menandatangani kontrak manggung itu. Aku akan menghajarmu habis-habisan" ancam bapak ngeloyor pergi keluar rumah
Aku yang melihat kejadian itu entah kenapa tidak menangis seperti biasanya, malahan jantungku berdegup kencang seraya menatap tajam ke arah bapak.

Senin tanggal 27 Juli 2005 tepat umurku genap memasuki tujuh tahun dan aku terus merengek kepada mamak untuk didaftarkan ke sekolah SD. Awalnya mamak tidak perduli, namun melihatku terus merengek akhirnya dengan mamak memberanikan diri untuk berbicara kepada bapak.
“Lagi sibuk pak?” Tanya mamak membuka pembicaraan
“Menurutmu?” jawab bapak ketus
“Rizki merengek terus minta disekolahkan pak?”
“Ya sudah masukkan saja!”
“Uangnya Pak?”
Bapak menghentikan kegiatannya seraya menatap tajam kearah mamak yang mulai bergetar
“Pakai saja uangmu dulu nanti diganti”
“Uang yang mana? Bukankah hasil dari manggung itu bapak yang menyimpan semuanya”
“Braak!!! Heh ingat ya. Ini adalah uang untuk masa depan kita nanti jadi tidak boleh diganggu tahu!” paparnya seraya menggebrak meja
“Tapikan ini untuk sekolahnya Rizki, berarti untuk masa depannya juga”
Akhirnya karena didesak terus-menerus oleh mamak maka bapak dengan terpaksa memberikan beberapa lembar uang ratusan untuk biaya mendaftar. Namun bapak tidak memberikan dengan Cuma-Cuma kepada mamak akan tetapi dengan syarat mamak harus mau manggung setiap kali ada orderan dari pak Jufri.
Semenjak kejadian itu aku menjadi benci terhadap bapak, setiap melihat wajahnya aku ingin saja melemparnya dengan batu dan hal itu hampir saja aku lakukan ketika melihatnya pulang dalam keadaan mabuk.
“Duk, duk, duk! Buka pintunya. Buka pintunya!” bunyi pintu yang di gedor dengan kasar
Setelah dibuka ternyata bapak pulang dengan keadaan mabuk serta merta masih membawa botol bir.
“Astaghfirullah Bapak!. Kenapa jadi begini, sadar pak, sadar.” Ucap mama tak henti seraya memapah tubuh bapak ke kamar
“Aaahhhh! Berisik. Minggir. Mana sih Mirna hah? Panggil dia kesini aku kangen sekale ne. ha..ha..ha.. ukh..ukh” paparnya tak jelas
Mendengar ocehan bapak yang tidak karuan itu mamak menjadi bertanya-tanya
“Siapakah Mirna itu dan apa hubungannya dengan suamiku. Aku harus bertanya kepada mas Anto bila ia sadar nanti”.
Keesokan harinya setelah bapak terbangun dari tidurnya dan bersiap-siap untuk berangkat kerja. Mamak segera menghampirinya,
“Mirna itu siapa sih mas?” Tanya Mamak
Mendengar pertanyaan itu bapak sedikit terkejut dan sedikit gugup
“Ooooh… itu teman bapak yang memberikan info pekerjaan ini”
“Aku tidak percaya Mas. Mas pasti selingkuh dengannya kan!”
“Apa-apaan kamu ini, tuduhanmu itu tidak berdasar. Sudahlah jangan cari-cari masalah ya!. Sekali lagi kutegaskan aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia, paham!”
“Kalau tidak punya hubungan kenapa tadi malam waktu mas mabuk mas terus menyebut-nyebut namanya”
“Namanya orang mabuk, pasti ya tidak karuanlah ucapannya. Ya sudahlah tidak usah dibahas lagi. Aku pergi dulu ya! Oh ya jangan lupa daftarkan segera Rizki ke sekolah”
Bersambung……………………………………………………….~!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar